Jika yang suci itu putih,
tidak akan ada kopi di antara kita.
Tidak ada uap, tidak ada noda,
tidak ada tawa yang terselip di gelap cangkir.
Mereka berkata:
“Jangan campur yang murni dengan yang gelap.”
Seolah aroma, rasa, dan detik hangat
harus tunduk pada peraturan tanpa rasa.
Aku menatap kopi, gelapnya berani,
mengajakku tersenyum:
kesucian yang terlalu putih
hanya mati di ruang steril.
Yang hidup—hangat, beraroma, manusiawi—
selalu muncul dari antara noda dan terang.
Dan kau…
terserah memilih cangkirmu.