Kamis, 12 Februari 2026

TITIP

Barangkali

kita tak pernah benar-benar bertemu—

hanya dua sunyi

yang bersisian sebentar

di bawah cuaca yang sama.

Tak ada janji.

Tak ada kata besar.

Hanya tawamu

yang singgah ringan,

dan namamu

yang entah bagaimana

tinggal lebih lama dari seharusnya.

Rasa itu datang

bukan seperti api,

melainkan seperti embun—

pelan,

hampir tak terlihat,

tapi membuat segalanya basah.

Kita tak menggenggam apa-apa,

namun dada terasa penuh.

Lalu waktu,

seperti biasa,

menyusun jarak

tanpa meminta izin.

Kota-kota menjauh.

Hari-hari menebal.

Dan aku mengerti,

ada pintu

yang tak ditakdirkan kubuka.

Maka kupelankan langkah,

kucabut namamu

dari bibirku sendiri,

kubiarkan ia turun

menjadi napas saja.

Sejak itu

aku tak lagi mencari.

Namamu hanya lewat

sesekali—

seperti angin

yang menyentuh tirai,

menggerakkannya sedikit,

lalu hilang.

Dan anehnya,

di situlah damai tumbuh.

Bukan karena lupa,

bukan pula karena selesai,

melainkan karena cinta

akhirnya belajar

tidak memiliki.

Sekarang

jika malam terlalu sunyi,

aku hanya memejamkan mata

dan membiarkan segala yang tak sampai

kembali pada asalnya—

seperti cahaya

yang pulang ke langit.

Minggu, 08 Februari 2026

Pagi dilereng lawu

 Kabut masih enggan pergi,

menyelimuti lereng dengan selimut abu-abu lembut.

Burung-burung mulai berbisik,

menyusun nada yang hanya dimengerti angin.

Cahaya matahari menetes perlahan,

memantul di daun, di rerumputan basah,

mengusir gelap malam tanpa terburu-buru,

seolah pagi tahu, keindahan tak perlu dipaksa.

Di lereng ini, dunia berhenti sejenak,

hanya ada langkah kaki, napas, dan suara hati sendiri.

Aku berdiri, diam,

menyerap setiap detik yang tidak pernah sama,

merasakan pagi yang bukan milikku,

tapi cukup untuk hadir di dalamku.

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...