Senin, 28 April 2025

Luka yang Tak Terucap

 Aku adalah luka yang ada di dalam setiap ruang yang kau tinggalkan kosong,

di tempat yang kau tak tahu harus memanggilnya apa.

Seperti bayang yang menyelinap di sela-sela malam,

tak pernah tampak, namun selalu ada,

membekas pada setiap dinding yang kau sentuh.


Kau adalah cahaya yang terlalu cepat pergi,

membiarkan aku merasakan gelap yang tak bisa kujelaskan.

Tapi dalam tiap kepergianmu,

aku belajar mengenal setiap detik yang mengalir dalam diam,

seperti hujan yang tak bisa dipanggil pulang,

meski ia ingin, meski ia rindu.


Aku berdiam dalam keheningan,

di antara ruang yang penuh dengan tanya,

menunggu suatu saat kau kembali,

meski aku tahu, kau tak akan pernah tahu

betapa aku adalah luka yang terbentuk dalam setiap kosongmu.


Kelak, di ujung kesunyian,

akan ada satu kata yang mengalir,

tapi biarkan itu tetap menjadi bisu,

terpatri dalam ruang yang kau tinggalkan kosong.

Dalam Pelukan Senja

Aku adalah angin, yang tak lelah menggoreskan namamu di antara tiap helaian senja, saat langit perlahan menorehkan wajahmu pada peluknya yang redup.


Kau adalah cakrawala, tempat segala cahaya mataku bermuara, membangun rumah di ujung tatap, di sana, rinduku selalu pulang tanpa berkata.


Di antara lembutnya jingga, kita berbicara dalam sunyi, seperti laut yang diam memahami hujan — tak pernah bertanya, hanya menerima jatuhnya.


Setiap hela waktu, terajut dalam warna yang kita anyam: merah yang berani mencinta tanpa syarat, emas yang setia menuntun malam.


Maka ketika malam merapatkan langit, tak perlu lagi kau tanya tentang terang, sebab aku telah habis menjadi cahaya, hanya untuk tetap abadi dalam gelapmu.



---

Sabtu, 26 April 2025

Dan,

--------------------------------------------

  “Dan jika suatu saat

namaku larut bersama udara

yang tak lagi kau hirup,

biarkan aku lenyap

tanpa perlu dicari atau dikenang—

seperti rindu yang memilih menjadi hujan,

agar tak perlu menjelaskan kepada awan:

mengapa ia turun.”


Rabu, 23 April 2025

Peran dan Aktor: Sebuah Lakon Ilahi

 Di panggung semesta,

lakon telah digurat sejak mula kata.

Ada yang dikaruniai terang,

ada yang dibisikkan menjadi bayang.


Namun,

peran tanpa ruh hanyalah jenaka yang hampa.

Sandiwara tanpa pengemban,

bagai seruling tanpa desir —

diam, tak berjejak makna.


Iblis pun diberi ruang,

bukan karena Dia memeluk gelap,

melainkan agar lewat kehadirannya,

manusia mampu memilih:

menjadi Adam yang kembali,

atau Qabil yang membatu dalam dendamnya.


Lalu siapa kita?

Pembawa cahaya? Penjaja gelisah?

Ataukah sekadar wajah yang berlalu,

tak sadar tengah menjadi bagian dari adegan?


Bukan soal tokoh apa yang kita sandang,

melainkan:

sudahkah kita terjaga dalam lakon yang digelar?


Sebab sungguh:

Sutradara yang agung tidak melihat kostummu, tapi kesadaranmu.

Dia tak menilai dari manisnya naskah,

tapi dari tekadmu menulis ulang bab yang salah.


Dan di akhir cerita,

Sutradara yang Maha Mengetahui

takkan keliru menempatkan tiap pemeran.

Karena setiap hati, telah menulis sendiri

jalan pulangnya.

Jejak dalam diam

 Aku mencintaimu

seperti senyap mencintai gema:

tak pernah bersua,

namun saling menyentuh

di ruang yang tak disebut nama.


Engkau bukan hadir, bukan pula tiada—

kau adalah jeda

di antara detak

yang tak kupahami,

namun selalu kutunggu,

seperti hujan yang nyaris turun

di langit senja yang tak kunjung berubah warna.


Namamu tak pernah kusebut,

bukan karena lupa,

melainkan karena ia terukir

di sela-sela napasku,

terlalu suci

untuk lidah yang masih mencicip

rasa dunia.


Aku mengingatmu

seperti bau tanah basah

yang muncul setelah hujan,

tak terlihat,

tapi membuat rinduku tumbuh

bahkan saat tak ada bunga yang mekar.


Dan bila suatu saat

semesta bergetar tanpa sebab,

percayalah—

itu aku:

bukan hadir, bukan lenyap,

hanya cinta

yang tak perlu disebut,

Dalam senyap penantian

Aku menunggu

di batas senja yang tak akan tiba,

seperti angin yang berputar tanpa suara,

mencari tempat yang tak pernah ada.


Waktu merengkuhku tanpa kata,

hanya meninggalkan jejak

yang tak mampu kupahami—

karena ia hanya bisa dikenali

oleh yang tak terlihat.


Apa yang kucari?

Bukan jawaban yang akan datang,

tapi sebuah kesunyian

yang kini menjadi rumahku.


Penantian ini adalah cahaya

yang terpatri dalam gelap,

bukan untuk dilihat,

tapi untuk diterima

oleh jiwa yang tidak perlu lagi bertanya.


Penantian yang Terpatri

Aku menunggu,

di ujung malam yang tak pernah benar-benar tidur,

seperti bayang yang tak berani bersentuhan

dengan cahaya yang hampir datang,

namun tetap menghilang sebelum sempat menyapa.


Cinta ini, apakah kau rasakan?

Seperti matahari yang tetap menatap cakrawala,

meski tenggelam di balik laut yang kelam,

tak pernah lelah mengalirkan sinarnya

meski tak ada yang bisa menerima.


Bukan jawab yang kucari,

tetapi ruang yang engkau tinggalkan,

seperti jejak langkah yang hilang di pasir,

terhapus oleh ombak yang tak pernah tuntas

menghapus semua kenangan yang terpatri dalam hati.


Penantian ini,

seperti hujan yang menunggu jatuh

di langit yang tak lagi percaya pada awan,

bukan karena ia tak ingin memberikan airnya,

tetapi karena ia tahu,

keheningan adalah ruang di mana cinta tumbuh

tanpa suara, tanpa perlu nama.


Aku menunggu bukan untuk melihatmu datang,

tetapi untuk merasakan dirimu kembali,

meski hanya dalam bayang yang menghilang,

dalam setiap napas yang tak pernah berhenti

menyebut namamu dalam diam.


Cahaya yang lelah

aku duduk di ujung cahaya;

seperti api kecil di dasar sumur,

hidup, tapi jauh dari siapa pun.

tak ada yang benar-benar hangat lagi—

hanya kenangan yang menyamar jadi nyala.


kata-kata yang kulepas,

terbang seperti debu di buku yang tak pernah dibuka,

mereka pergi tanpa bekas,

seolah tak pernah dimaksudkan untuk ditemukan.


aku pernah menjadi langit yang menggenggam petir,

kini hanyalah tanah retak

yang menunggu hujan tanpa janji,

mendengar angin seperti mendengar pintu yang tak pernah diketuk.


segala yang kupeluk menjadi udara;

bahkan bayanganmu pun menipis,

seolah aku ini senyap

yang tak pernah cukup lantang untuk disebut “rindu.”


dan inilah aku:

menyalakan ulang sepi setiap pagi,

berharap luka bisa tumbuh jadi cahaya,

meski tahu—cahaya pun bisa lelah.


Kau Merindu

(Sajak dari ruang yang tak pernah disebut pulang)


Kau merindu,

seperti senja yang enggan menjawab

apakah ia masih siang

atau telah menyerah pada malam.

Ada cahaya yang belum padam,

tapi tak cukup untuk menuntun pulang.


Seperti langkah yang tak jadi pergi,

namun juga tak ingin kembali—

kau menetap dalam jeda,

menggantungkan harap

pada waktu yang tak menjanjikan apa-apa.


Kau merindu seperti benih

yang jatuh di tanah yang tak dikenal—

ia tak tahu apakah esok akan hujan,

atau musim akan berpihak,

namun tetap diam di sana

karena percaya:

tumbuh tak selalu butuh alasan,

kadang hanya butuh harapan

yang tak bisa dijelaskan.


Maka rindu itu pun diam,

bukan karena takut bicara,

melainkan karena tahu:

beberapa rasa hanya bisa tinggal

dalam diam yang panjang.

Itu rindu yang tak meminta balas,

hanya ruang untuk ada,

untuk menunggu tanpa tanda,

tanpa kepastian

siapa yang seharusnya datang.


Aku lihat matamu membawa jarak,

bukan karena tak tahu arah,

melainkan karena terlalu paham

bahwa tak semua jalan

harus membawa pulang.

Kadang, kerinduan adalah rumah itu sendiri—

yang tak berbentuk,

tapi kau simpan dalam dada

seperti suara ibu

dalam diam malam.


Dan bila rindu itu kau semat

di balik senyum dan rutinitas,

aku harap ia tak sepenuhnya hilang.

Karena beberapa luka

memang tak untuk disembuhkan,

melainkan untuk diingat—

agar hati tetap tahu cara merasa,

meski tanpa nama,

meski tanpa alamat.


Dan jika suatu hari kau bertanya—

mengapa ada sunyi yang terasa begitu dekat,

namun tak pernah kau temukan sumbernya...


mungkin itu aku:

yang telah lama menjadi suara

di ruang sunyi

yang tak pernah kau sadari

bernama "rindu"

Menitip nyala pada waktu

Aku menyebut namamu

seperti desir angin yang tak jadi menyapa daun,

hanya singgah sebentar

lalu diam,

meninggalkan getar yang tak terlihat siapa pun.


Wajahmu,

bukan sekadar rupa,

melainkan senja yang berulang di mataku—

tak pernah sama,

namun selalu kutunggu kepulangannya.


Aku mencintaimu

bukan sebagai milik,

melainkan sebagai nyala kecil

yang kutitipkan pada waktu,

agar tetap hangat meski tak pernah kujemput.


Dan bila rindu ini mesti luruh,

biarlah ia jatuh perlahan

seperti embun yang memilih tanah daripada langit,

agar jejakku tetap tinggal

di satu nama yang tak pernah kupanggil—kecuali dalam diam.


Akulah Cinta

Aku bukan datang dari pagi;

tidak pula dari malam yang basah;

aku hanya ada—

seperti embun yang tak memilih daun untuk jatuh.


Aku: bayang yang enggan terungkap....

di antara kata yang melayang,

lebih dekat dari yang kau kira;

lebih jauh dari yang mampu kau sentuh.


Kau tak perlu mencariku;

aku tak meninggalkan jejak.

Namun jika kau merasa

ada sesuatu yang menetap setelah segala berlalu,


maka jangan tanya darimana aku datang;

dan jika ada yang bertanya siapa aku:

akulah cinta—yang tak pernah menyebut nama

Sabtu, 19 April 2025

Engkau yang Kudekap dalam Rindu yang Tak Bermakna

 

Engkau rahasia

yang tak selesai kusebut.

Setiap bibir hendak memanggil,

dadaku telah penuh.

Kau hadir tanpa datang,

tinggal tanpa menetap—

sunyi yang manis,

mengusik tidurku.

Cinta ini

bukan yang kugenggam,

melainkan yang menggenggamku.

Aku padamu

seperti laut pada bulan:

tak menyentuh,

namun pasang.

Seperti bayang pada cahaya:

hidup olehnya,

hilang bila berpaling.

Rindu bukan jarak.

Hanya arah

yang lupa pulang.

Dan bila namaku luruh,

biarlah satu getar tinggal—

tanpa suara,

tanpa nama,

namun ada.

Tak Pernah Bertemu


Aku mencintaimu meski namamu tak pernah kurasa di bibir,

meski suaramu tak pernah sampai ke telingaku,

namun dalam tiap hembus napasku,

kau ada di sana, di dalam hening yang menanti.


Aku mencintaimu dalam jarak yang tak bisa dihitung,

dalam ruang yang tak pernah dapat kugenggam.

Kau hadir dalam setiap detik yang terlewat,

seperti embun yang turun dalam malam yang tak pernah menunggu.


Aku menunggu, meski tak tahu kapan kau akan datang,

meski jalan menujumu seakan tak pernah ada ujungnya.

Dalam hening aku mencari jejakmu,

seperti sungai yang tahu pasti lautnya,

tapi tak pernah tahu kapan ia akan tiba.


Setiap langkahku adalah langkah menuju sesuatu

yang tak tampak, yang tak terdefinisikan,

tapi selalu terasa dalam tiap detik yang berlalu.

Seperti pertemuan yang terabaikan,

seperti hati yang terus mencintai tanpa tahu siapa yang menunggu.


Aku tahu kau ada, meski aku tak melihat wajahmu,

meski aku tak bisa merasakan tanganmu menggenggamku.

Cinta ini bukan tentang pertemuan,

bukan tentang melihatmu,

tapi tentang merasamu dalam setiap denyut jantungku,

dalam setiap bisu yang menunggu untuk berbicara.


Mungkin kita tak akan pernah bertemu,

tapi aku tahu—

kau adalah alasan aku berjalan,

seperti bintang yang aku lihat di kejauhan,

meski aku tahu kita tak akan pernah berdiri di tempat yang sama.


Siapa pun kau, di akhir cerita,

kau adalah jalan yang aku cari,

meski tak pernah kutemui.

Dan meski tak ada kata yang menghubungkan kita,

aku mencintaimu dalam diam

yang lebih kuat daripada segala pertemuan.



---

Panggung Kehendak


Aku berdiri di panggung-Mu,

dengan naskah yang tak pernah kutulis,

dengan peran yang tak pernah kupilih,

namun tetap kulakoni dengan dada terbuka,

dan jiwa yang Engkau pinjamkan sementara.


Aku bertanya dalam sunyi:

Siapakah aku?

Protagoniskah aku dalam kisah-Mu,

atau hanya figuran yang datang sekejap,

lalu hilang ditelan skenario agung ini?


Namun Kau jawab dengan diam,

sebuah jawaban yang lebih dalam dari kata,

“Aktor tak berhak menggugat peran,

tapi berhak memainkannya dengan cinta.”



---


Maka kuterima semuanya—

suka dan luka,

pujian dan cela,

karena kupahami,

bahkan antagonis pun Kau ciptakan,

agar drama ini indah,

agar protagonis punya cermin

untuk belajar mencintai musuhnya,

dan mengasihi dirinya sendiri.



---


Di bawah cahaya rahasia langit,

aku menangis, bukan karena duka,

tapi karena aku menyadari,

betapa MahaSutradara itu

mencintai tiap tokoh-Nya,

bahkan yang jatuh dalam konflik,

diberi kesempatan untuk kembali.



---


Dan ketika tirai akhirnya ditutup,

aku hanya ingin tersenyum padamu,

dengan hati yang penuh rasa syukur,

"Terima kasih,

telah memberiku peran ini,

memperlihatkan indahnya kasih yang tak terhingga."


dalam perjalanan yg tak terungkap

(Sebuah pengembaraan dalam ketidak pastian yang indah)


Aku tak tahu siapa yang kusebut

saat hati ini mengatup pelan dalam senyap,

saat napas mengusung satu nama

yang tak pernah kupelajari.


Kau tak pernah datang,

tapi jejakmu ada di setiap diam.

Seperti embun pada daun yang tak memanggil hujan,

kau tiba begitu saja,

dan entah bagaimana,

segala yang beku menjadi hangat.


Aku mengenalmu dari cara pagi menyentuh jendela,

dari gemetar halus yang muncul

saat seseorang menyebut "cinta"

tanpa tahu siapa yang dimaksud.


Langkahku bukan menuju tempat,

hanya mengulang desir

yang barangkali pernah kau kirim

melalui desir angin

atau garis di telapak waktu.


Jika yang kurindu adalah sosok,

mengapa doaku begitu sunyi dan dalam?

Jika yang kusapa adalah langit,

mengapa wajahmu terasa begitu dekat,

seperti pernah kutemui di balik tirai mata?


Ada sesuatu tentangmu

yang tak bisa kuucapkan

tanpa kehilangan maknanya.

Maka kubiarkan saja rindu ini hidup

dalam bentuk yang tak kupahami.


Dan bila aku tak sampai,

biarlah perjalanan ini menjadi doa

yang tak pernah mengharap pulang,

hanya ingin terus berjalan

menuju sesuatu

yang rasanya… sepertiMu

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...