Aku mencintaimu meski namamu tak pernah kurasa di bibir,
meski suaramu tak pernah sampai ke telingaku,
namun dalam tiap hembus napasku,
kau ada di sana, di dalam hening yang menanti.
Aku mencintaimu dalam jarak yang tak bisa dihitung,
dalam ruang yang tak pernah dapat kugenggam.
Kau hadir dalam setiap detik yang terlewat,
seperti embun yang turun dalam malam yang tak pernah menunggu.
Aku menunggu, meski tak tahu kapan kau akan datang,
meski jalan menujumu seakan tak pernah ada ujungnya.
Dalam hening aku mencari jejakmu,
seperti sungai yang tahu pasti lautnya,
tapi tak pernah tahu kapan ia akan tiba.
Setiap langkahku adalah langkah menuju sesuatu
yang tak tampak, yang tak terdefinisikan,
tapi selalu terasa dalam tiap detik yang berlalu.
Seperti pertemuan yang terabaikan,
seperti hati yang terus mencintai tanpa tahu siapa yang menunggu.
Aku tahu kau ada, meski aku tak melihat wajahmu,
meski aku tak bisa merasakan tanganmu menggenggamku.
Cinta ini bukan tentang pertemuan,
bukan tentang melihatmu,
tapi tentang merasamu dalam setiap denyut jantungku,
dalam setiap bisu yang menunggu untuk berbicara.
Mungkin kita tak akan pernah bertemu,
tapi aku tahu—
kau adalah alasan aku berjalan,
seperti bintang yang aku lihat di kejauhan,
meski aku tahu kita tak akan pernah berdiri di tempat yang sama.
Siapa pun kau, di akhir cerita,
kau adalah jalan yang aku cari,
meski tak pernah kutemui.
Dan meski tak ada kata yang menghubungkan kita,
aku mencintaimu dalam diam
yang lebih kuat daripada segala pertemuan.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar