Rabu, 23 Juli 2025

Jika Kau Membaca Diamku

ada yang tumbuh di matamu,

bukan lagi tanya, tapi luka yang tahu arah

dan tawa yang mulai menjaga jarak

dari tangan yang dulu menimangmu.


kau bukan lagi anak-anak

yang bertanya karena ingin tahu—

kau bertanya karena tak ingin dibohongi.


dan itu baik.

sebab dunia ini tak selalu adil,

dan kadang kita harus berdamai

bukan dengan dunia,

tapi dengan bayangan harapan kita sendiri.


aku tak menjanjikan masa depan,

tapi aku berdiri dalam sunyi di belakangmu—

menjadi diam yang tak pernah berpaling,

meski sinarmu memilih arah lain.


kau akan tahu, suatu hari nanti:

menjadi perempuan

tak harus selalu kuat di luar.

cukup jujur kepada luka,

dan tak kehilangan peta

saat cinta datang dengan banyak wajah.


dan bila semua suara terasa menjauh,

kau hanya perlu duduk sebentar,

dan membaca diamku.


karena diamku bukan hening—

ia adalah namamu

yang terus-menerus kupanjatkan

tanpa suara,

agar pulangmu tetap punya arah,

meski langkahmu telah jauh dari pangkuanku.

Selasa, 15 Juli 2025

Telah Sampai

 Aku tak lagi menjagamu diam-diam.

Bukan karena berhenti peduli,

melainkan karena akhirnya aku mengerti:

cinta tak selalu harus tinggal,

meski pernah tumbuh begitu dalam.


Ada hal-hal yang, setelah waktu cukup panjang,

tak lagi butuh penjelasan.

Seperti dedaunan yang luruh,

bukan karena pohon tak ingin memeluknya,

tapi karena angin telah mengantar musim baru.


Apa yang pernah kusebut rindu,

kini cukup kupanggil kenangan.

Tenang.

Tidak menyakitkan,

dan tidak juga ingin kembali.


Jika suatu hari kita berpapasan,

kau tak perlu membaca apa pun dari caraku tersenyum.

Aku sudah belajar diam-diam,

bahwa tak semua yang pernah indah

harus dibawa pulang.

Pelan-pelan Aku mengering

Kita pernah jatuh,

seperti hujan pertama yang disambut hangat

oleh aroma tanah.

Kau bilang itu pertanda:

segala yang tumbuh akan dimulai dari situ.


Tapi aku lupa,

hujan tak tinggal.

Ia datang hanya untuk membasahi,

lalu menguap—

kadang sebelum sempat disyukuri.


Sekarang aku paham,

kau bukan salah musim,

aku saja yang terlalu ingin

segala yang basah menjadi abadi.


Kita adalah hujan

yang sudah sampai tanah.

Tak bisa kembali ke langit

dengan bentuk yang sama.


Dan aku,

tidak lagi menunggu.

Hanya duduk diam,

mendengarkan sisa langkahmu

yang masih tinggal

di lantai sunyi dalam diriku

yang perlahan

belajar kering.

Rabu, 09 Juli 2025

Yang Tak Aku Titipkan Kepada Angin

___________________________________

___________________________________


Bukan karena tak tahu arah,

tapi justru karena terlalu paham

apa yang akan hancur

jika tetap tinggal.

Maka langkah pun menjauh,

bukan karena ingin lari,

tapi karena tahu diri.


Jika malam terasa lebih sepi

dari biasanya,

itu karena satu nama

sengaja tidak kusebut dalam doa—

bukan karena lupa,

melainkan agar semesta tak perlu tahu

ada yang kutinggalkan

dalam keadaan masih mencinta.


Jika harus ada yang disimpan selamanya,

biarlah ia tinggal dalam senyap yang tak disebut-sebut.

Karena pernah ada rindu

yang terlalu indah untuk diteruskan,

dan terlalu berisiko untuk dibenarkan.

Maka ia memilih mati,

demi yang lebih suci dari cinta.

JB


TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...