Rabu, 24 Desember 2025

Monopoli taman

Keindahan taman itu

lahir sebelum kata sempat berniat.

Ia hadir seperti cahaya

yang tidak tahu

siapa akan menatapnya.

Begitu dinamai,

ia mulai bocor dari genggaman.

Begitu dijelaskan,

ia tinggal bayangan.

Lalu para penjaga datang,

membawa bahasa sebagai kunci,

mengurung cahaya

dalam definisi,

menyebut pagar

sebagai pengabdian.

Mereka berdiri rapi,

lidah fasih mengatur rasa,

tangan sigap menutup celah,

seolah keindahan

akan rusak

jika disentuh tanpa izin.

Mereka melarang orang merasakan,

agar keindahan

hanya sah

di mulut mereka.

Yang lain diminta percaya,

tanpa sempat terpesona.

Diminta patuh,

tanpa hak

untuk diam.

Padahal keindahan

tidak tinggal di klaim,

tidak menetap di suara paling keras.

Ia lewat sebentar

pada yang cukup lapang

untuk tidak memilikinya.

Dan ketika taman tak lagi bercahaya,

para penjaga menuduh angin,

menyalahkan langkah,

menambah pagar.

Tanpa sadar

yang mereka jaga sejak awal

bukan keindahan,

melainkan

hak untuk menguasainya.

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...