Keindahan taman itu
lahir sebelum kata sempat berniat.
Ia hadir seperti cahaya
yang tidak tahu
siapa akan menatapnya.
Begitu dinamai,
ia mulai bocor dari genggaman.
Begitu dijelaskan,
ia tinggal bayangan.
Lalu para penjaga datang,
membawa bahasa sebagai kunci,
mengurung cahaya
dalam definisi,
menyebut pagar
sebagai pengabdian.
Mereka berdiri rapi,
lidah fasih mengatur rasa,
tangan sigap menutup celah,
seolah keindahan
akan rusak
jika disentuh tanpa izin.
Mereka melarang orang merasakan,
agar keindahan
hanya sah
di mulut mereka.
Yang lain diminta percaya,
tanpa sempat terpesona.
Diminta patuh,
tanpa hak
untuk diam.
Padahal keindahan
tidak tinggal di klaim,
tidak menetap di suara paling keras.
Ia lewat sebentar
pada yang cukup lapang
untuk tidak memilikinya.
Dan ketika taman tak lagi bercahaya,
para penjaga menuduh angin,
menyalahkan langkah,
menambah pagar.
Tanpa sadar
yang mereka jaga sejak awal
bukan keindahan,
melainkan
hak untuk menguasainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar