Aku adalah angin, yang tak lelah menggoreskan namamu di antara tiap helaian senja, saat langit perlahan menorehkan wajahmu pada peluknya yang redup.
Kau adalah cakrawala, tempat segala cahaya mataku bermuara, membangun rumah di ujung tatap, di sana, rinduku selalu pulang tanpa berkata.
Di antara lembutnya jingga, kita berbicara dalam sunyi, seperti laut yang diam memahami hujan — tak pernah bertanya, hanya menerima jatuhnya.
Setiap hela waktu, terajut dalam warna yang kita anyam: merah yang berani mencinta tanpa syarat, emas yang setia menuntun malam.
Maka ketika malam merapatkan langit, tak perlu lagi kau tanya tentang terang, sebab aku telah habis menjadi cahaya, hanya untuk tetap abadi dalam gelapmu.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar