Rabu, 21 Mei 2025

Pada Luka, Kuucap Selamat Tinggal

pada luka,

aku temukan diriku bukan sebagai korban,

melainkan saksi

bahwa rasa tak selalu ingin dimiliki

kadang hanya ingin diakui—

seperti senja yang tak meminta malam

tapi tetap menggelap dengan anggun


kau pernah jadi tanya

yang kupeluk tanpa ingin tahu jawabnya,

karena dalam diammu

ada ruang yang tak bisa dipetakan logika

dan aku,

memilih tinggal bukan karena tak tahu arah,

tapi karena ingin percaya

bahwa tak semua perjalanan butuh tujuan


aku menjadi waktu

yang bersabar di antara detik-detikmu,

bukan untuk menunggumu kembali

tapi untuk melihat

seberapa dalam aku bisa mengenal kehilangan

tanpa mengubahnya jadi kebencian


dan kau,

mungkin hanyalah bayang

yang dipinjamkan semesta

agar aku belajar

bahwa keindahan pun bisa sementara,

dan itu tak membuatnya kurang berarti


maka hari ini,

dengan hati yang tak lagi menggenggam

dan jiwa yang telah cukup patah untuk menjadi utuh—

kuucap selamat tinggal,

bukan sebagai akhir,

melainkan sebagai isyarat

bahwa aku telah sampai

pada pengertian:

bahwa cinta yang sejati

tak selalu harus tinggal

untuk tetap abadi.

Selasa, 20 Mei 2025

Ruang tak terucap

 sebelum cahaya tahu caranya merangkai pagi,

ada bisu yang melintasi tanpa jejak

ia tak datang dan tak pergi

seperti sungai yang lupa tujuan

namun tetap setia memeluk tebing


hening bukan kekosongan,

melainkan wujud tanpa rupa,

hembusan pertama dari yang tak terucap,

bayang yang lahir tanpa tubuh


di antara detak dan kelopak waktu

terhampar kehadiran tanpa bentuk

sebagai aroma tanpa bunga

sebagai pandang tanpa mata


hening tak meminta percaya,

ia adalah ruang antara tanya dan jawaban,

udara yang mengisi dada saat doa terlupa,

diam yang menyisakan ruang untuk mendengar


jika bunyi adalah gelombang,

hening adalah laut yang menenangkan

tak menuntut, tak menolak—

hanya memeluk luka dan puji dalam riak yang lembut


dan saat dunia kehilangan kata untuk bicara,

hening tetap tinggal sebagai rahasia

yang diam-diam menyimpan

keabadian dalam ketidaktahuan.


Selasa, 06 Mei 2025

Peri kecilku

Kau tumbuh dari hening yang kupelihara,
di tanah batin yang senantiasa basah oleh harap,
seperti benih cahaya yang kupendam dalam sunyi,
menetas pelan di pagi-pagi penuh doa.

Kau adalah cahaya
yang lebih dulu kusentuh dalam diam,
peri kecilku—
yang semesta bisikkan pada jiwa
sebelum dunia sempat menyebutkan namamu.
Kau menjelma kabut yang lembut,
mengisi jendela-jendela hati
dengan tanya yang belum sempat menjadi kata.

Langitmu adalah jalan yang tak bisa kupetakan,
namun kuyakini ada tangan halus
yang menuntunmu dalam diam.
Sebab terang tak diwariskan,
ia tumbuh dari luka yang disayang,
dari sabar yang disembunyikan,
seperti mata air
yang mencari jalan
di antara bebatuan jiwa.

Setiap luka yang kautemui
adalah pesan halus dari kehidupan,
yang hanya bisa dibaca dengan hati yang lapang.
Agar kau tahu,
bahwa terang sejati tak lahir sendiri,
ia belajar berdamai dengan bayang,
dan tumbuh bersama kasih yang tak terlihat.

Dan bila malam merapatkan langitmu,
biarlah rinduku menjelma angin pelan
yang menyelinap ke dalam diammu,
mencari celah
tempat hatimu masih percaya pada kehadiran.

Aku adalah napas yang tak kau lihat,
namun menyertaimu—
di setiap langkah,
hingga kau temukan terangmu sendiri,
dan tahu:
kau tak pernah berjalan sendirian.

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...