Kau tumbuh dari hening yang kupelihara,
di tanah batin yang senantiasa basah oleh harap,
seperti benih cahaya yang kupendam dalam sunyi,
menetas pelan di pagi-pagi penuh doa.
Kau adalah cahaya
yang lebih dulu kusentuh dalam diam,
peri kecilku—
yang semesta bisikkan pada jiwa
sebelum dunia sempat menyebutkan namamu.
Kau menjelma kabut yang lembut,
mengisi jendela-jendela hati
dengan tanya yang belum sempat menjadi kata.
Langitmu adalah jalan yang tak bisa kupetakan,
namun kuyakini ada tangan halus
yang menuntunmu dalam diam.
Sebab terang tak diwariskan,
ia tumbuh dari luka yang disayang,
dari sabar yang disembunyikan,
seperti mata air
yang mencari jalan
di antara bebatuan jiwa.
Setiap luka yang kautemui
adalah pesan halus dari kehidupan,
yang hanya bisa dibaca dengan hati yang lapang.
Agar kau tahu,
bahwa terang sejati tak lahir sendiri,
ia belajar berdamai dengan bayang,
dan tumbuh bersama kasih yang tak terlihat.
Dan bila malam merapatkan langitmu,
biarlah rinduku menjelma angin pelan
yang menyelinap ke dalam diammu,
mencari celah
tempat hatimu masih percaya pada kehadiran.
Aku adalah napas yang tak kau lihat,
namun menyertaimu—
di setiap langkah,
hingga kau temukan terangmu sendiri,
dan tahu:
kau tak pernah berjalan sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar