Aku berdiri di panggung-Mu,
dengan naskah yang tak pernah kutulis,
dengan peran yang tak pernah kupilih,
namun tetap kulakoni dengan dada terbuka,
dan jiwa yang Engkau pinjamkan sementara.
Aku bertanya dalam sunyi:
Siapakah aku?
Protagoniskah aku dalam kisah-Mu,
atau hanya figuran yang datang sekejap,
lalu hilang ditelan skenario agung ini?
Namun Kau jawab dengan diam,
sebuah jawaban yang lebih dalam dari kata,
“Aktor tak berhak menggugat peran,
tapi berhak memainkannya dengan cinta.”
---
Maka kuterima semuanya—
suka dan luka,
pujian dan cela,
karena kupahami,
bahkan antagonis pun Kau ciptakan,
agar drama ini indah,
agar protagonis punya cermin
untuk belajar mencintai musuhnya,
dan mengasihi dirinya sendiri.
---
Di bawah cahaya rahasia langit,
aku menangis, bukan karena duka,
tapi karena aku menyadari,
betapa MahaSutradara itu
mencintai tiap tokoh-Nya,
bahkan yang jatuh dalam konflik,
diberi kesempatan untuk kembali.
---
Dan ketika tirai akhirnya ditutup,
aku hanya ingin tersenyum padamu,
dengan hati yang penuh rasa syukur,
"Terima kasih,
telah memberiku peran ini,
memperlihatkan indahnya kasih yang tak terhingga."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar