Aku mencintaimu
seperti senyap mencintai gema:
tak pernah bersua,
namun saling menyentuh
di ruang yang tak disebut nama.
Engkau bukan hadir, bukan pula tiada—
kau adalah jeda
di antara detak
yang tak kupahami,
namun selalu kutunggu,
seperti hujan yang nyaris turun
di langit senja yang tak kunjung berubah warna.
Namamu tak pernah kusebut,
bukan karena lupa,
melainkan karena ia terukir
di sela-sela napasku,
terlalu suci
untuk lidah yang masih mencicip
rasa dunia.
Aku mengingatmu
seperti bau tanah basah
yang muncul setelah hujan,
tak terlihat,
tapi membuat rinduku tumbuh
bahkan saat tak ada bunga yang mekar.
Dan bila suatu saat
semesta bergetar tanpa sebab,
percayalah—
itu aku:
bukan hadir, bukan lenyap,
hanya cinta
yang tak perlu disebut,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar