Rabu, 23 April 2025

Peran dan Aktor: Sebuah Lakon Ilahi

 Di panggung semesta,

lakon telah digurat sejak mula kata.

Ada yang dikaruniai terang,

ada yang dibisikkan menjadi bayang.


Namun,

peran tanpa ruh hanyalah jenaka yang hampa.

Sandiwara tanpa pengemban,

bagai seruling tanpa desir —

diam, tak berjejak makna.


Iblis pun diberi ruang,

bukan karena Dia memeluk gelap,

melainkan agar lewat kehadirannya,

manusia mampu memilih:

menjadi Adam yang kembali,

atau Qabil yang membatu dalam dendamnya.


Lalu siapa kita?

Pembawa cahaya? Penjaja gelisah?

Ataukah sekadar wajah yang berlalu,

tak sadar tengah menjadi bagian dari adegan?


Bukan soal tokoh apa yang kita sandang,

melainkan:

sudahkah kita terjaga dalam lakon yang digelar?


Sebab sungguh:

Sutradara yang agung tidak melihat kostummu, tapi kesadaranmu.

Dia tak menilai dari manisnya naskah,

tapi dari tekadmu menulis ulang bab yang salah.


Dan di akhir cerita,

Sutradara yang Maha Mengetahui

takkan keliru menempatkan tiap pemeran.

Karena setiap hati, telah menulis sendiri

jalan pulangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...