(Sajak dari ruang yang tak pernah disebut pulang)
Kau merindu,
seperti senja yang enggan menjawab
apakah ia masih siang
atau telah menyerah pada malam.
Ada cahaya yang belum padam,
tapi tak cukup untuk menuntun pulang.
Seperti langkah yang tak jadi pergi,
namun juga tak ingin kembali—
kau menetap dalam jeda,
menggantungkan harap
pada waktu yang tak menjanjikan apa-apa.
Kau merindu seperti benih
yang jatuh di tanah yang tak dikenal—
ia tak tahu apakah esok akan hujan,
atau musim akan berpihak,
namun tetap diam di sana
karena percaya:
tumbuh tak selalu butuh alasan,
kadang hanya butuh harapan
yang tak bisa dijelaskan.
Maka rindu itu pun diam,
bukan karena takut bicara,
melainkan karena tahu:
beberapa rasa hanya bisa tinggal
dalam diam yang panjang.
Itu rindu yang tak meminta balas,
hanya ruang untuk ada,
untuk menunggu tanpa tanda,
tanpa kepastian
siapa yang seharusnya datang.
Aku lihat matamu membawa jarak,
bukan karena tak tahu arah,
melainkan karena terlalu paham
bahwa tak semua jalan
harus membawa pulang.
Kadang, kerinduan adalah rumah itu sendiri—
yang tak berbentuk,
tapi kau simpan dalam dada
seperti suara ibu
dalam diam malam.
Dan bila rindu itu kau semat
di balik senyum dan rutinitas,
aku harap ia tak sepenuhnya hilang.
Karena beberapa luka
memang tak untuk disembuhkan,
melainkan untuk diingat—
agar hati tetap tahu cara merasa,
meski tanpa nama,
meski tanpa alamat.
Dan jika suatu hari kau bertanya—
mengapa ada sunyi yang terasa begitu dekat,
namun tak pernah kau temukan sumbernya...
mungkin itu aku:
yang telah lama menjadi suara
di ruang sunyi
yang tak pernah kau sadari
bernama "rindu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar