Rabu, 23 April 2025

Kau Merindu

(Sajak dari ruang yang tak pernah disebut pulang)


Kau merindu,

seperti senja yang enggan menjawab

apakah ia masih siang

atau telah menyerah pada malam.

Ada cahaya yang belum padam,

tapi tak cukup untuk menuntun pulang.


Seperti langkah yang tak jadi pergi,

namun juga tak ingin kembali—

kau menetap dalam jeda,

menggantungkan harap

pada waktu yang tak menjanjikan apa-apa.


Kau merindu seperti benih

yang jatuh di tanah yang tak dikenal—

ia tak tahu apakah esok akan hujan,

atau musim akan berpihak,

namun tetap diam di sana

karena percaya:

tumbuh tak selalu butuh alasan,

kadang hanya butuh harapan

yang tak bisa dijelaskan.


Maka rindu itu pun diam,

bukan karena takut bicara,

melainkan karena tahu:

beberapa rasa hanya bisa tinggal

dalam diam yang panjang.

Itu rindu yang tak meminta balas,

hanya ruang untuk ada,

untuk menunggu tanpa tanda,

tanpa kepastian

siapa yang seharusnya datang.


Aku lihat matamu membawa jarak,

bukan karena tak tahu arah,

melainkan karena terlalu paham

bahwa tak semua jalan

harus membawa pulang.

Kadang, kerinduan adalah rumah itu sendiri—

yang tak berbentuk,

tapi kau simpan dalam dada

seperti suara ibu

dalam diam malam.


Dan bila rindu itu kau semat

di balik senyum dan rutinitas,

aku harap ia tak sepenuhnya hilang.

Karena beberapa luka

memang tak untuk disembuhkan,

melainkan untuk diingat—

agar hati tetap tahu cara merasa,

meski tanpa nama,

meski tanpa alamat.


Dan jika suatu hari kau bertanya—

mengapa ada sunyi yang terasa begitu dekat,

namun tak pernah kau temukan sumbernya...


mungkin itu aku:

yang telah lama menjadi suara

di ruang sunyi

yang tak pernah kau sadari

bernama "rindu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...