aku duduk di ujung cahaya;
seperti api kecil di dasar sumur,
hidup, tapi jauh dari siapa pun.
tak ada yang benar-benar hangat lagi—
hanya kenangan yang menyamar jadi nyala.
kata-kata yang kulepas,
terbang seperti debu di buku yang tak pernah dibuka,
mereka pergi tanpa bekas,
seolah tak pernah dimaksudkan untuk ditemukan.
aku pernah menjadi langit yang menggenggam petir,
kini hanyalah tanah retak
yang menunggu hujan tanpa janji,
mendengar angin seperti mendengar pintu yang tak pernah diketuk.
segala yang kupeluk menjadi udara;
bahkan bayanganmu pun menipis,
seolah aku ini senyap
yang tak pernah cukup lantang untuk disebut “rindu.”
dan inilah aku:
menyalakan ulang sepi setiap pagi,
berharap luka bisa tumbuh jadi cahaya,
meski tahu—cahaya pun bisa lelah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar