Rabu, 23 April 2025

Penantian yang Terpatri

Aku menunggu,

di ujung malam yang tak pernah benar-benar tidur,

seperti bayang yang tak berani bersentuhan

dengan cahaya yang hampir datang,

namun tetap menghilang sebelum sempat menyapa.


Cinta ini, apakah kau rasakan?

Seperti matahari yang tetap menatap cakrawala,

meski tenggelam di balik laut yang kelam,

tak pernah lelah mengalirkan sinarnya

meski tak ada yang bisa menerima.


Bukan jawab yang kucari,

tetapi ruang yang engkau tinggalkan,

seperti jejak langkah yang hilang di pasir,

terhapus oleh ombak yang tak pernah tuntas

menghapus semua kenangan yang terpatri dalam hati.


Penantian ini,

seperti hujan yang menunggu jatuh

di langit yang tak lagi percaya pada awan,

bukan karena ia tak ingin memberikan airnya,

tetapi karena ia tahu,

keheningan adalah ruang di mana cinta tumbuh

tanpa suara, tanpa perlu nama.


Aku menunggu bukan untuk melihatmu datang,

tetapi untuk merasakan dirimu kembali,

meski hanya dalam bayang yang menghilang,

dalam setiap napas yang tak pernah berhenti

menyebut namamu dalam diam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...