Aku menyebut namamu
seperti desir angin yang tak jadi menyapa daun,
hanya singgah sebentar
lalu diam,
meninggalkan getar yang tak terlihat siapa pun.
Wajahmu,
bukan sekadar rupa,
melainkan senja yang berulang di mataku—
tak pernah sama,
namun selalu kutunggu kepulangannya.
Aku mencintaimu
bukan sebagai milik,
melainkan sebagai nyala kecil
yang kutitipkan pada waktu,
agar tetap hangat meski tak pernah kujemput.
Dan bila rindu ini mesti luruh,
biarlah ia jatuh perlahan
seperti embun yang memilih tanah daripada langit,
agar jejakku tetap tinggal
di satu nama yang tak pernah kupanggil—kecuali dalam diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar