Kabut masih enggan pergi,
menyelimuti lereng dengan selimut abu-abu lembut.
Burung-burung mulai berbisik,
menyusun nada yang hanya dimengerti angin.
Cahaya matahari menetes perlahan,
memantul di daun, di rerumputan basah,
mengusir gelap malam tanpa terburu-buru,
seolah pagi tahu, keindahan tak perlu dipaksa.
Di lereng ini, dunia berhenti sejenak,
hanya ada langkah kaki, napas, dan suara hati sendiri.
Aku berdiri, diam,
menyerap setiap detik yang tidak pernah sama,
merasakan pagi yang bukan milikku,
tapi cukup untuk hadir di dalamku.