Minggu, 08 Februari 2026

Pagi dilereng lawu

 Kabut masih enggan pergi,

menyelimuti lereng dengan selimut abu-abu lembut.

Burung-burung mulai berbisik,

menyusun nada yang hanya dimengerti angin.

Cahaya matahari menetes perlahan,

memantul di daun, di rerumputan basah,

mengusir gelap malam tanpa terburu-buru,

seolah pagi tahu, keindahan tak perlu dipaksa.

Di lereng ini, dunia berhenti sejenak,

hanya ada langkah kaki, napas, dan suara hati sendiri.

Aku berdiri, diam,

menyerap setiap detik yang tidak pernah sama,

merasakan pagi yang bukan milikku,

tapi cukup untuk hadir di dalamku.

Jika yang suci itu putih

 Jika yang suci itu putih,

tidak akan ada kopi di antara kita.

Tidak ada uap, tidak ada noda,

tidak ada tawa yang terselip di gelap cangkir.

Mereka berkata:

“Jangan campur yang murni dengan yang gelap.”

Seolah aroma, rasa, dan detik hangat

harus tunduk pada peraturan tanpa rasa.

Aku menatap kopi, gelapnya berani,

mengajakku tersenyum:

kesucian yang terlalu putih

hanya mati di ruang steril.

Yang hidup—hangat, beraroma, manusiawi—

selalu muncul dari antara noda dan terang.

Dan kau…

terserah memilih cangkirmu.

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...