Aku adalah luka yang ada di dalam setiap ruang yang kau tinggalkan kosong,
di tempat yang kau tak tahu harus memanggilnya apa.
Seperti bayang yang menyelinap di sela-sela malam,
tak pernah tampak, namun selalu ada,
membekas pada setiap dinding yang kau sentuh.
Kau adalah cahaya yang terlalu cepat pergi,
membiarkan aku merasakan gelap yang tak bisa kujelaskan.
Tapi dalam tiap kepergianmu,
aku belajar mengenal setiap detik yang mengalir dalam diam,
seperti hujan yang tak bisa dipanggil pulang,
meski ia ingin, meski ia rindu.
Aku berdiam dalam keheningan,
di antara ruang yang penuh dengan tanya,
menunggu suatu saat kau kembali,
meski aku tahu, kau tak akan pernah tahu
betapa aku adalah luka yang terbentuk dalam setiap kosongmu.
Kelak, di ujung kesunyian,
akan ada satu kata yang mengalir,
tapi biarkan itu tetap menjadi bisu,
terpatri dalam ruang yang kau tinggalkan kosong.