Senin, 28 April 2025

Luka yang Tak Terucap

 Aku adalah luka yang ada di dalam setiap ruang yang kau tinggalkan kosong,

di tempat yang kau tak tahu harus memanggilnya apa.

Seperti bayang yang menyelinap di sela-sela malam,

tak pernah tampak, namun selalu ada,

membekas pada setiap dinding yang kau sentuh.


Kau adalah cahaya yang terlalu cepat pergi,

membiarkan aku merasakan gelap yang tak bisa kujelaskan.

Tapi dalam tiap kepergianmu,

aku belajar mengenal setiap detik yang mengalir dalam diam,

seperti hujan yang tak bisa dipanggil pulang,

meski ia ingin, meski ia rindu.


Aku berdiam dalam keheningan,

di antara ruang yang penuh dengan tanya,

menunggu suatu saat kau kembali,

meski aku tahu, kau tak akan pernah tahu

betapa aku adalah luka yang terbentuk dalam setiap kosongmu.


Kelak, di ujung kesunyian,

akan ada satu kata yang mengalir,

tapi biarkan itu tetap menjadi bisu,

terpatri dalam ruang yang kau tinggalkan kosong.

Dalam Pelukan Senja

Aku adalah angin, yang tak lelah menggoreskan namamu di antara tiap helaian senja, saat langit perlahan menorehkan wajahmu pada peluknya yang redup.


Kau adalah cakrawala, tempat segala cahaya mataku bermuara, membangun rumah di ujung tatap, di sana, rinduku selalu pulang tanpa berkata.


Di antara lembutnya jingga, kita berbicara dalam sunyi, seperti laut yang diam memahami hujan — tak pernah bertanya, hanya menerima jatuhnya.


Setiap hela waktu, terajut dalam warna yang kita anyam: merah yang berani mencinta tanpa syarat, emas yang setia menuntun malam.


Maka ketika malam merapatkan langit, tak perlu lagi kau tanya tentang terang, sebab aku telah habis menjadi cahaya, hanya untuk tetap abadi dalam gelapmu.



---

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...