pada luka,
aku temukan diriku bukan sebagai korban,
melainkan saksi
bahwa rasa tak selalu ingin dimiliki
kadang hanya ingin diakui—
seperti senja yang tak meminta malam
tapi tetap menggelap dengan anggun
kau pernah jadi tanya
yang kupeluk tanpa ingin tahu jawabnya,
karena dalam diammu
ada ruang yang tak bisa dipetakan logika
dan aku,
memilih tinggal bukan karena tak tahu arah,
tapi karena ingin percaya
bahwa tak semua perjalanan butuh tujuan
aku menjadi waktu
yang bersabar di antara detik-detikmu,
bukan untuk menunggumu kembali
tapi untuk melihat
seberapa dalam aku bisa mengenal kehilangan
tanpa mengubahnya jadi kebencian
dan kau,
mungkin hanyalah bayang
yang dipinjamkan semesta
agar aku belajar
bahwa keindahan pun bisa sementara,
dan itu tak membuatnya kurang berarti
maka hari ini,
dengan hati yang tak lagi menggenggam
dan jiwa yang telah cukup patah untuk menjadi utuh—
kuucap selamat tinggal,
bukan sebagai akhir,
melainkan sebagai isyarat
bahwa aku telah sampai
pada pengertian:
bahwa cinta yang sejati
tak selalu harus tinggal
untuk tetap abadi.