Kita pernah jatuh,
seperti hujan pertama yang disambut hangat
oleh aroma tanah.
Kau bilang itu pertanda:
segala yang tumbuh akan dimulai dari situ.
Tapi aku lupa,
hujan tak tinggal.
Ia datang hanya untuk membasahi,
lalu menguap—
kadang sebelum sempat disyukuri.
Sekarang aku paham,
kau bukan salah musim,
aku saja yang terlalu ingin
segala yang basah menjadi abadi.
Kita adalah hujan
yang sudah sampai tanah.
Tak bisa kembali ke langit
dengan bentuk yang sama.
Dan aku,
tidak lagi menunggu.
Hanya duduk diam,
mendengarkan sisa langkahmu
yang masih tinggal
di lantai sunyi dalam diriku
yang perlahan
belajar kering.