Selasa, 15 Juli 2025

Pelan-pelan Aku mengering

Kita pernah jatuh,

seperti hujan pertama yang disambut hangat

oleh aroma tanah.

Kau bilang itu pertanda:

segala yang tumbuh akan dimulai dari situ.


Tapi aku lupa,

hujan tak tinggal.

Ia datang hanya untuk membasahi,

lalu menguap—

kadang sebelum sempat disyukuri.


Sekarang aku paham,

kau bukan salah musim,

aku saja yang terlalu ingin

segala yang basah menjadi abadi.


Kita adalah hujan

yang sudah sampai tanah.

Tak bisa kembali ke langit

dengan bentuk yang sama.


Dan aku,

tidak lagi menunggu.

Hanya duduk diam,

mendengarkan sisa langkahmu

yang masih tinggal

di lantai sunyi dalam diriku

yang perlahan

belajar kering.

Rabu, 09 Juli 2025

Yang Tak Aku Titipkan Kepada Angin

___________________________________

___________________________________


Bukan karena tak tahu arah,

tapi justru karena terlalu paham

apa yang akan hancur

jika tetap tinggal.

Maka langkah pun menjauh,

bukan karena ingin lari,

tapi karena tahu diri.


Jika malam terasa lebih sepi

dari biasanya,

itu karena satu nama

sengaja tidak kusebut dalam doa—

bukan karena lupa,

melainkan agar semesta tak perlu tahu

ada yang kutinggalkan

dalam keadaan masih mencinta.


Jika harus ada yang disimpan selamanya,

biarlah ia tinggal dalam senyap yang tak disebut-sebut.

Karena pernah ada rindu

yang terlalu indah untuk diteruskan,

dan terlalu berisiko untuk dibenarkan.

Maka ia memilih mati,

demi yang lebih suci dari cinta.

JB


TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...