Selasa, 15 Juli 2025

Telah Sampai

 Aku tak lagi menjagamu diam-diam.

Bukan karena berhenti peduli,

melainkan karena akhirnya aku mengerti:

cinta tak selalu harus tinggal,

meski pernah tumbuh begitu dalam.


Ada hal-hal yang, setelah waktu cukup panjang,

tak lagi butuh penjelasan.

Seperti dedaunan yang luruh,

bukan karena pohon tak ingin memeluknya,

tapi karena angin telah mengantar musim baru.


Apa yang pernah kusebut rindu,

kini cukup kupanggil kenangan.

Tenang.

Tidak menyakitkan,

dan tidak juga ingin kembali.


Jika suatu hari kita berpapasan,

kau tak perlu membaca apa pun dari caraku tersenyum.

Aku sudah belajar diam-diam,

bahwa tak semua yang pernah indah

harus dibawa pulang.

Pelan-pelan Aku mengering

Kita pernah jatuh,

seperti hujan pertama yang disambut hangat

oleh aroma tanah.

Kau bilang itu pertanda:

segala yang tumbuh akan dimulai dari situ.


Tapi aku lupa,

hujan tak tinggal.

Ia datang hanya untuk membasahi,

lalu menguap—

kadang sebelum sempat disyukuri.


Sekarang aku paham,

kau bukan salah musim,

aku saja yang terlalu ingin

segala yang basah menjadi abadi.


Kita adalah hujan

yang sudah sampai tanah.

Tak bisa kembali ke langit

dengan bentuk yang sama.


Dan aku,

tidak lagi menunggu.

Hanya duduk diam,

mendengarkan sisa langkahmu

yang masih tinggal

di lantai sunyi dalam diriku

yang perlahan

belajar kering.

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...