aku tak pernah mengetuk pintu,
tak pula menunggu dibukakan.
rumah itu
sejak awal
tak berdinding.
orang-orang sibuk menggambar denah,
menamai arah,
menyusun doa seperti pagar.
aku hanya angin
yang lewat
tanpa merasa lewat.
kadang kau mencariku
di kitab-kitab tebal,
di suara yang ditinggikan,
di sujud yang terlalu lama.
padahal aku bersembunyi
di sela jeda—
antara ingin
dan melepaskan.
saat kau berhenti menyebut-nyebut dirimu,
aku duduk di sana,
seperti cahaya tipis
di permukaan air.
tak bersinar,
tapi cukup
untuk membuat pagi terjadi.
maka diamlah sebentar.
biarkan dunia lewat seperti awan.
jika dadamu terasa lapang
tanpa sebab,
jika napasmu pulang
tanpa tujuan,
itulah aku—
bukan datang,
bukan pergi,
hanya ada.
Karanganyar 07 feb 26