Sabtu, 07 Februari 2026

Di Antara Napas

 

aku tak pernah mengetuk pintu,

tak pula menunggu dibukakan.

rumah itu

sejak awal

tak berdinding.

orang-orang sibuk menggambar denah,

menamai arah,

menyusun doa seperti pagar.

aku hanya angin

yang lewat

tanpa merasa lewat.

kadang kau mencariku

di kitab-kitab tebal,

di suara yang ditinggikan,

di sujud yang terlalu lama.

padahal aku bersembunyi

di sela jeda—

antara ingin

dan melepaskan.

saat kau berhenti menyebut-nyebut dirimu,

aku duduk di sana,

seperti cahaya tipis

di permukaan air.

tak bersinar,

tapi cukup

untuk membuat pagi terjadi.

maka diamlah sebentar.

biarkan dunia lewat seperti awan.

jika dadamu terasa lapang

tanpa sebab,

jika napasmu pulang

tanpa tujuan,

itulah aku—

bukan datang,

bukan pergi,

hanya ada.


Karanganyar 07 feb 26

Rabu, 24 Desember 2025

Monopoli taman

Keindahan taman itu

lahir sebelum kata sempat berniat.

Ia hadir seperti cahaya

yang tidak tahu

siapa akan menatapnya.

Begitu dinamai,

ia mulai bocor dari genggaman.

Begitu dijelaskan,

ia tinggal bayangan.

Lalu para penjaga datang,

membawa bahasa sebagai kunci,

mengurung cahaya

dalam definisi,

menyebut pagar

sebagai pengabdian.

Mereka berdiri rapi,

lidah fasih mengatur rasa,

tangan sigap menutup celah,

seolah keindahan

akan rusak

jika disentuh tanpa izin.

Mereka melarang orang merasakan,

agar keindahan

hanya sah

di mulut mereka.

Yang lain diminta percaya,

tanpa sempat terpesona.

Diminta patuh,

tanpa hak

untuk diam.

Padahal keindahan

tidak tinggal di klaim,

tidak menetap di suara paling keras.

Ia lewat sebentar

pada yang cukup lapang

untuk tidak memilikinya.

Dan ketika taman tak lagi bercahaya,

para penjaga menuduh angin,

menyalahkan langkah,

menambah pagar.

Tanpa sadar

yang mereka jaga sejak awal

bukan keindahan,

melainkan

hak untuk menguasainya.

TITIP

Barangkali kita tak pernah benar-benar bertemu— hanya dua sunyi yang bersisian sebentar di bawah cuaca yang sama. Tak ada janji. Tak ada kat...