Barangkali
kita tak pernah benar-benar bertemu—
hanya dua sunyi
yang bersisian sebentar
di bawah cuaca yang sama.
Tak ada janji.
Tak ada kata besar.
Hanya tawamu
yang singgah ringan,
dan namamu
yang entah bagaimana
tinggal lebih lama dari seharusnya.
Rasa itu datang
bukan seperti api,
melainkan seperti embun—
pelan,
hampir tak terlihat,
tapi membuat segalanya basah.
Kita tak menggenggam apa-apa,
namun dada terasa penuh.
Lalu waktu,
seperti biasa,
menyusun jarak
tanpa meminta izin.
Kota-kota menjauh.
Hari-hari menebal.
Dan aku mengerti,
ada pintu
yang tak ditakdirkan kubuka.
Maka kupelankan langkah,
kucabut namamu
dari bibirku sendiri,
kubiarkan ia turun
menjadi napas saja.
Sejak itu
aku tak lagi mencari.
Namamu hanya lewat
sesekali—
seperti angin
yang menyentuh tirai,
menggerakkannya sedikit,
lalu hilang.
Dan anehnya,
di situlah damai tumbuh.
Bukan karena lupa,
bukan pula karena selesai,
melainkan karena cinta
akhirnya belajar
tidak memiliki.
Sekarang
jika malam terlalu sunyi,
aku hanya memejamkan mata
dan membiarkan segala yang tak sampai
kembali pada asalnya—
seperti cahaya
yang pulang ke langit.